Iklan Juli 2026

Padi Melimpah Beras Langka: Ada Apa dengan Rantai Pasok OKU Timur?

Padi Melimpah Beras Langka: Ada Apa dengan Rantai Pasok OKU Timur?

Foto: dok OTP - Rillando Maranansha Noor, S.E--

 

Mekanisme pasar yang berlaku saat ini menunjukkan mayoritas petani menjual hasil panen dalam bentuk GKP atau GKG kepada pengumpul. 

 

 

Gabah ini kemudian diboyong ke luar daerah yang memiliki kapasitas penggilingan lebih canggih atau industri pengolahan yang lebih mapan. Secara ekonomi transaksional, tindakan petani menjual ke pembeli dengan penawaran tertinggi adalah hal lumrah.

 

Namun, ketika porsi gabah yang tersedot ke luar daerah jauh melebihi kapasitas yang diserap penggilingan lokal, OKU Timur mengalami kerugian ganda (Double Loss). 

 

 

Kabupaten ini mengeksport bahan mentah (gabah), sementara nilai tambah ekonomi dari proses penggilingan, pengemasan hingga pembiayaan merek (branding) dinikmati daerah lain. Yang pergi meninggalkan OKU Timur bukan sekadar gabah, melainkan juga lapangan kerja, potensi pendapatan daerah serta kemandirian pangan lokal.

 

Di sinilah urgensi hilirisasi pangan. Konsep hilirisasi tak boleh melulu disempitkan pada komoditas tambang atau kelapa sawit. 

 

 

Padi butuh hilirisasi. Hasil panen petani tidak boleh berhenti sebagai gabah mentah, melainkan harus diolah menjadi beras berkualitas premium, dikemas dengan merek lokal hingga diolah menjadi produk turunan seperti tepung beras, dedak dan pakan ternak.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: