SBY: Hari-hari yang Menentukan Sejarah Amerika Dan Iran: Perang atau Damai?

Jumat 27-02-2026,22:11 WIB
Reporter : redokutpos
Editor : redokutpos

OKUTIMURPOS.COM - Mantan Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) merespon konflik yang terjadi antara negara Amerika dan Iran. 

 

Dalam postingan yang dibagikannya pada tanggal 27 februari 2026 pukul 19:35 Wib SBY menuliskan dengan judul "Hari-hari yang Menentukan Sejarah Amerika Dan Iran: Perang atau Damai?".

 

Postingannya mendapatkan banyak respon dari netizen, Tulisannya ini mendapatkan 127 komentar, 299 diposting ulang dan mendapatkan 1.000 like. 

 

Berikut respon postingan SBY terkait gejolak antara Amerika dan Iran. 

 

Jenewa kota yang indah, damai dan saat ini hawanya sejuk. Namun, jam-jam ini, hari-hari mendatang, kota yang penuh legenda ini bisa menjadi saksi sejarah. Bisa melahirkan sebuah “game change” yang berimplikasi besar pada perkembangan dunia.

 

Di penghujung Februari 2026 ini, tengah berlangsung sebuah perundingan dan negosiasi yang sangat penting. Juru runding Amerika Serikat tengah melakukan pertemuan tidak langsung (melalui mediator) dengan juru runding Iran. Banyak kalangan yang tengah menunggu hasil negosiasi itu, utamanya bangsa-bangsa di kawasan Timur Tengah. Sukses atau gagal? Bawa kedamaian, atau sebaliknya menyulut terjadinya peperangan yang dahsyat?

 

Semua tahu bahwa negosiasi, utamanya menyangkut masa depan proyek nuklir Iran itu sesuatu yang sangat rumit dan tidak mudah untuk membangun opsi yang bisa diterima kedua belah pihak. Kepentingan kedua negara sangat berbeda. Ketika perundingan tengah berlangsung, di kawasan Timur Tengah sedang berhadap-hadapan dua negara yang siap berperang. Para juru runding juga harus cerdas membaca pikiran kedua pemimpin yang memberikan mandat pada mereka, Presiden Trump dan Ayatullah Khamenei. Membangun “harmoni” antara juru runding dengan para bosnya mungkin juga sesuatu yang tidak mudah.

 

Sebagai seorang yang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam resolusi konflik, baik pada tingkat nasional maupun internasional, saya mesti mengatakan bahwa sebuah negosiasi itu sangat melelahkan. Perlu kesabaran, kecerdasan, dan keuletan. Siap untuk berkompromi serta bersedia untuk sebuah “take and give”. Keinginan dan sasaran yang digariskan oleh kedua pemimpin negara juga harus sangat dimengerti.

Kategori :